IRFAN SI ANAK SUKU
Irfan. Ya, itulah nama yang amat singkat dari siswaku. Irfan adalah seorang anak 12 tahun asli dari Suku Binggi di Sulawesi Barat. Sekarang ia masih duduk di kelas VII. Dari awal ia mendaftar di SMP PT Pasangkayu, perhatianku tertuju padanya. Aku penasaran, siapakah gerangan anak baru ini? Bapaknya datang mengantar ke sekolah. Dengan tegapnya ia memperkenalkan bahwa ia adalah penduduk asli atau bisa dibilang suku asli di daerah kami. Aku terpana, takjub tak henti-hentinya memandang anak ini, karena di dalam daftar siswa baru memang hanya ada sedikit, sekitar 3 anak dari suku asli yang mendaftar di SMP kami. Sebagian besar anak-anak asli Suku Binggi tidak bersekolah. Mereka hanya bekerja di kebun. Tak jarang banyak pula di antara anak-anak perempuan seusia Irfan yang sudah dijodohkan dan akhirnya menikah.
Hingga akhirnya saat mulai masuk sekolah ternyata dari ketiga siswa ini, anak Suku Binggi, hanya Irfan-lah yang benar-benar semangat untuk bersekolah. Hal ini dikarenakan dua siswa lainnya mengundurkan diri dan memilih untuk bekerja di kebun dan dijodohkan oleh orang tua mereka. Memang, kebanyakan dari Suku Asli Binggi tidaklah mengenyam bangku sekolah secara mendalam. Syukur-syukur mereka bisa lulus SD. Hmmm.. yang tidak bersekolah saja juga ada. Karena itu, cara pandang masyarakat Suku Binggi ini masih sempit. Mereka kurang memberikan perhatian tentang sekolah. Berbeda dengan Irfan, ia adalah anak dari ketua suku Binggi. Ayahnya, Pak Neso, mulai memiliki pemikiran bahwa sekolah itu penting. Dan pemikiran ini ia terapkan pada anaknya, Irfan. Maka aku pun mulai merasa tertarik untuk lebih mendalami karakter siswaku, Irfan si anak suku ini.
Memang tak ada yang istimewa dari Irfan. Ia anak suku, kulit hitam, badan kecil namun memiliki sorot mata yang tajam dan bulu mata yang lentik . Saat berkata pun dia mengucapkan dengan terbata-bata, istilahnya belum pandai berbahasa Indonesia dengan baik. Tapi dia anak yang sopan, kepada guru ia selalu memberi salam, berjalan di depan guru pun ia selalu menunduk, ia juga tidak pernah membantah apa kata guru.
Kebetulan aku mengampu mata pelajaran IPS. Waktu itu aku membagi kelas dalam kelompok dan melakukan diskusi. Irfan mendapat bagian untuk mempresentasikan hasil diskusi. Namun, Irfan tidak mau. Ia menolak. Dan akhirnya tugas mempresentasikan pun digantikan oleh temannya. Dalam kelompok diskusi pun ia juga cenderung pasif. Saya kurang tahu kenapa dia begini. Apakah ia takut untuk berbicara atau memang dia seorang anak yang slow learner. Ulangan pun ia sering ikut remidi.
Tapi berbeda saat pembelajaran bahasa Inggris. Teman saya, Bu Tyas bercerita bahwa meskipun Irfan itu kurang bisa bicara namun ia selalu rajin unutk pinjam buku atau kamus dari perpustakaan. Ini dikarenakan Irfan kebingungan mengerjakan PR-nya di rumah. Dan bu Tyas pun mengapresiasi niat Irfan ini, karena hal ini menunjukkan bahwa ia mau berusaha untuk bangkit dan mencari solusi atas masalahnya.
Karena Irfan jarang berbicara ini maka aku selalu mencoba untuk mengajaknya ngobrol di waktu senggang ataupun aku bertanya tentang dia dan keluarganya. Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya putus sekolah dan adiknya baru kelas 6 SD. Ayah dan ibunya hanya bekerja di kebun. Metode ini aku gunakan agar ia mulai terbuka dengan orang lain, selain itu aku juga ingin lebih mendalaminya.
Meski rumahnya jauh dari sekolah, Irfan tidak pernah terlambat ke sekolah. Dalam hal olah raga, ia sangat menyukainya. Ia suka sekali bermain bola ataupun bermain takraw. Yang tidak saya sangka adalah saat Class Meeting, ia mewakili kelasnya mengikuti berbagai macam lomba olah raga antar kelas. Ia ikut bermain bola, takraw, voli dan catur. Yang membuat saya heran, ternyata Irfan mendapat Juara II Lomba Catur. Saya kaget, teman-temannya pun juga kaget. Setelah saya telusuri ternyata ia memiliki bakat bermain catur dari ayahnya. Irfan berkata bahwa saat di rumah, ia selalu menyempatkan diri bermain catur dengan sang ayah. Ternyata saya baru tahu meskipun dari segi kognitifnya ia tidak terlalu pintar, namun dalam psikomotoriknya ia pandai.
Aku juga terpana dibuat oleh Irfan. Waktu itu hari Sabtu, memang di sekolahku tidak ada pembelajaran. Tapi digantikan dengan kegiatan pengembangan diri. Waktu itu aku memberikan pengembangan diri berhitung cepat atau biasa disebut matematika gasing. Irfan menjadi salah satu siswa yang mengikutinya. Setelah saya ajarkan teknik-tekniknya, saya lalu memberikan beberapa soal. Dan ternyata Irfan bisa, ia menjawab semua soal yang saya berikan dengan benar. Saya terheran-heran, padahal guru matematikanya berkata bahwa Irfan termasuk lemah dalam matematika. Namun, saya mulai yakin bahwa sebenarnya anak ini memang bisa namun belum memiliki kesempatan saja untuk mengembangkan bakatnya. Ya, memang pada dasarnya semua anak itu adalah bintang.
Suatu saat aku bertanya pada Irfan tentang cita-citanya. Ia hanya termenung. Diam seribu bahasa. Lama aku menunggu jawaban darinya. Hampir lima menit ia akhirnya membuka mulutnya. Jadi polisi buk, katanya. Aku pun tersenyum. Akhirnya anak ini mau bicara. Lalu aku pun menasehatinya, saya meyakinkan dirinya bahwa kelak ia akan menjadi seorang polisi. Tapi Irfan harus rajin belajar, mau mengembangkan diri kepada hal-hal baru, dan hormat kepada ayah-maupun ibunya. Ia pun mengangguk. Ia berjanji akan rajin belajar dan tidak akan putus sekolah seperti kakaknya.
Begitulah seorang anak, tidak ada anak bodoh, hanya saja kita sebagai guru belum bisa menemukan apa yang menjadi minat dan bakatnya. Karena itu semua anak adalah bintang. Mari kita sebagai guru mulai mencari bibit-bibit bintang dari setiap siswa kita. Jangan hanya menghakimi siswa lemah kognitif dengan cap bodoh. Karena pada dasarnya setiap siswa itu memiliki bakat luar biasa yang harus kita asah.
Salam,
Lambang Tri Harmini, S.Pd.
(Kontributor / Guru IPS SMP PT Pasangkayu)
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
MENINGKATKAN PEMAHAMAN PESERTA DIDIK PADA MATERI KHULAFA’U AL-ROSYIDIN DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL FILM PENDEK DI KELAS VII B SMP ASTRA MAKMUR JAYA
MENINGKATKAN PEMAHAMAN PESERTA DIDIK PADA MATERI KHULAFA’U AL-ROSYIDIN DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL FILM PENDEK DI KELAS VIIB SMP ASTRA MAKMUR JAYA Abd.Majid SMP As
