MENINGKATKAN PEMAHAMAN PESERTA DIDIK PADA MATERI KHULAFA’U AL-ROSYIDIN DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL FILM PENDEK DI KELAS VII B SMP ASTRA MAKMUR JAYA
MENINGKATKAN PEMAHAMAN PESERTA DIDIK PADA MATERI KHULAFA’U AL-ROSYIDIN DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL FILM PENDEK DI KELAS VIIB SMP ASTRA MAKMUR JAYA
Abd.Majid
SMP Astra Makmur Jaya
e-Mail: amj.majid712@gmail.com
Abstrak
Pada Penulisan ini dilakukan Penulisan tindakan kelas (PTK) yang merupakan suatu pengamatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan dan sulit karena guru tinggal melakukan dengan sengaja dan diamatilah hasilnya secara seksama. Penulisan ini dilakukan di kelas VII B SMP Astra Makmur Jaya tahun ajaran 2021/2022 dengan jumlah siswa 32 orang. Pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus I yang kurang optimal ini berdampak pada siswa. Berdasarkan hasil tes yang dilakukan setelah akhir siklus I diperoleh nilai rata-rata sebesar 78 dan ketuntasan belajar secara klasikal hanya mencapai 62,5 %. Pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus II terjadi perubahan-perubahan yang menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa, yaitu hasil nilai tes siswa yang mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil tes yang dilakukan setelah akhir siklus II diperoleh nilai rata-rata sebesar 89 dan ketuntasan belajar sebesar 96,9%. Pada siklus ini terdapat 31 siswa yang tuntas belajar dan 1 siswa yang belum tuntas. Maka dengan melalui media Film Pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa materi Khulafa’u Al-Rosyidin pada siswa kelas VII B SMP Astra Makmur Jaya.
Kata Kunci: Hasil Belajar Siswa, Film Pembelajaran, SMP Astra Makmur Jaya
PENDAHULUAN
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) merupakan proses dimana guru dan
siswa berinteraksi timbal balik satu sama lain yang bersifat mempengaruhi
dan dipengaruhi. Keberhasilan suatu KBM ditentukan dari banyak faktor
terutama dari dalam guru dan siswa itu sendiri. Inti dari proses belajar
mengajar adalah tingkat keefektifan dari pelaksanaan KBM tersebut. Tingkat
efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh perilaku guru dan siswa. Perilaku
guru yang efektif antara lain mengajar dengan jelas, menggunakan variasi
metode pembelajaran, memperdayakan peserta didik dan lain sebagainya.
Sedangkan perilaku siswa anatara lain disiplin belajar, semangat belajar,
kemandirian belajar, aktif belajar dan sikap belajar yang positif.
Salah satu indikator tingkat keefektifan dan keberhasilan suatu KBM
dapat dilihat dari besar kecilnya prestasi belajar siswa. Menurut (Karwati,
2014: 155) yang dimaksud dengan “prestasi belajar adalah kemampuan yang
meliputi segenap ranah psikologi (kognitif, afektif dan psikomotor) yang
berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar peserta didik.” Prestasi
belajar akan terlihat berdasarkan perubahan perilaku sebelum dan sesudah
belajar peserta didik. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa prestasi
belajar sangat penting dalam dunia pendidikan, karena menjadi salah satu alat
ukur sampai sejauh mana tingkat pemahaman siswa dalam memahami suatu
materi
Pelaksanaan pembelajaran harusnya berpusat pada siswa, agar tercipta prakarsa, kreativitas, dan kemandirian dari siswa sesuai dengan Peraturan Pemerintah no. 32 tahun 2013 tentang perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 yang pada pasal 19 ayat 1 menjelaskan bahwa Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan bagi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian peserta didik. Pembelajaran tematik terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai muatan pelajaran ke dalam berbagai tema.
Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam merupakan bagian dari 5 inti pembeljaran Pendidikan Agama Islam tingkat satuan Pendidikan Menengah. Standar isi kurikulum 2013 yang dijelaskan pada Lampiran Permendikbud no 64 tahun 2013 tentang Standar Isi, yaitu standar isi disesuaikan dengan substansi tujuan pendidikan nasional dalam domain sikap spiritual dan sikap sosial, pengetahuan, serta keterampilan. Pembelajaran membutuhkan peranan media pembelajaran.Media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen pembelajaran. Komunikasi tidak akan terjadi tanpa media dan proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung secara optimal. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan mengenai media pembelajaran. Penjelasan itu tertuang dalam Lampiran Permendikbud no. 65 tahun 2013 yang menjelaskan bahwa media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran.
Berdasarkan temuan permasalahan di SMP Astra Makmur Jaya di atas, Penulis menemukan media pembelajaran yang telah dilaksanakan dan berhasil untuk mengatasi permasalahan seperti yang terjadi di kelas VII B SMP Astra Makmur Jaya.
Pemilihan media audio visual film pendek dalam pembelajaran ini dikarenakan Film pembelajaran merupakan media yang memberikan contoh langsung kepada siswa secara visual, sehingga siswa akan dengan mudah memahami sebuah materi. Siswa dapat secara interaktif mengikuti kegiatan praktik sesuai yang di ajarkan dalam Film. Daryanto (2010: 79) menerangkan bahwa Film merupakan media yang efektif karena ukuran tampilan film yang sangat fleksibel dan dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Baik pembelajaran individu hingga pembelajaran kelas dapat dengan mudah disesuaikan.Film juga merupakan bahan ajar non cetak yang menyajikan banyak informasi ke hadapan siswa secara langsung.
Kemampuan Film dalam memvisualisasikan materi terutama lebih efektif untuk membantu guru menjelaskan materi yang bersifat dinamis, misalnya fenomena perubahan perkembangan peradaban Islam (Daryanto, 2010: 80). Visualisasi fenomena perubahan seperti itu jelas siswa akan dengan mudah mengingat materi. Siswa akan lebih termotivasi untuk melakukan pengamatan secara langsung terhadap proses yang di visualisasikan film.
Berdasarkan hasil temuan di kelas guru masih menggunakan lembar kerja siswa sebagai media pendukung. Penggunaan media akan divariasai dengan media film pembelajaran untuk lebih menarik minat belajar siswa. Oleh karena itu akan dilakukan Penulisan menggunakan model pembelajaran Mind Mapping. Penulis akan mengkaji melalui Penulisan tindakan kelas dengan judul “Meningkatkan Pemahaman Peserta Didik Pada Materi Khulafa’u Al-Rosyidin Dengan Media Audio Visual Film Pendek Di Kelas VII B SMP Astra Makmur Jaya”.
METODE
Penelitian yang diambil adalah penelitian Tindakan kelas (PTK), yaitu sebuah penelitian praktis yang bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Selain itu juga merupakan salah satu bentuk upaya guru atau praktisi pendidikan dalam berbagai bentuk kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Sehingga tujuan dari PTK adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Disamping itu terdapat karakteristik dalam PTK yaitu didasarkan pada masalah yang dihadapi oleh guru dalam instruksional, adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya, penelitian sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi, bertujuan memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik instruksional, dan dilaksankan dalam rangkaian langkah dan beberapa siklus.
Sedangkan menurut Ibnu (dalam Aqib, 2009 : 16) menjelaskan bahwa PTK memiliki karakteristik dasar diantaranya sebagai berikut :
- Dalam melaksanakan tindakan berdasarkan pada masalah yang dihadapi oleh guru.
- Adanya perpaduan dalam pelaksanaannya.
- Peniliti atau guru sebagai media yang melakukan refleksi.
- Bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktik instuktional
- Dalam pelaksanaannya terbagi dalam beberapa siklus atau periode.
Setelah menyusun PTK langkah selanjutnya yang dilakukan oleh guru adalah menyusun laporan PTK dengan mengikuti garis besar sistematika yang umum digunakan.
Menurut Arikunto, Penulisan tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan dan sulit karena guru tinggal melakukan dengan sengaja dan diamati hasilnya secara seksama. Adapun model PTK menggambarkan adanya empat langkah (dan pengulangannya) yaitu langkah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Penulis menganalisis deskripsi kualitatif melalui lembar observasi dan deskripsi kuantitatif melalui tes hasil belajar. Sedangkan data kuantitatif berupa Kompetensi Belajar kognitif yang dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif, yaitu suatu metode Penulisan yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui Kompetensi Belajar yang dicapai siswa, perilaku belajar siswa selama pembelajaran serta perilaku pembelajaran guru dalam pembelajaran. Data kualitatif berupa data hasil observasi perilaku pembelajaran guru, perilaku belajar, iklim pembelajaran, materi pembelajaran, media pembelajaran, dan Kompetensi Belajar siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan media audio visual film pendek, serta hasil catatan lapangan dan hasil wawancara yang kemudian dijabarkan dalam bentuk deskriptif kualitatif dipaparkan dalam kalimat yang dipisah-pisahkan menurut kategori dalam beberapa paragraf menurut kriteria agar diperoleh simpulan. Teknik pengumpul data yang dilakukan pada Penulisan ini adalah teknik tes dan teknik non tes. Penulisan ini dilakukan di SMP Astra Makmur Jaya, Subjek Penulisan ini adalah guru (Penulis), siswa kelas VII B SMP Astra Makmur Jaya dengan jumlah 32 siswa, yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan, tahun ajaran 2021/ 2022. Variabel Penulisan yang menjadi titik sasaran untuk menjawab permasalahan Penulisan ini adalah variabel input, siswa dan guru merupakan masukan tentang perbaikan pelaksanaan Penulisan tindakan yaitu hasil belajar siswa sebelum dilakukan Penulisan Tindakan Kelas (PTK). variabel proses, menyangkut proses tindakan kelas yang telah direncanakan dengan memanfaatkan media film Pendek untuk meningkatkan kemampuan hasil belajar siswa kelas VII B SMP Astra Makmur Jaya. variabel output, berupa peningkatan hasil belajar siswa Kelas VII B SMP Astra Makmur Jaya melalui media film pendek pada materi Khulafa’u Al-Rosyidin.
HASIL
Menurut James O. Whittaker dalam Rusman Belajar adalah Proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan perilaku sebagai manfaat yang positif bagi individu tersebut dalam berinteraksi.
Lingkungan belajar merupakan suatu sistem yang terdiri dari unsur tujuan, bahan pelajaran, strategi, alat, siswa, dan guru dimana semua unsur atau komponen tersebut saling berkaitan, saling mempengaruhi, dan semuanya berfungsi dengan berorientasi pada tujuan. Daryanto bahwa pembelajaran merupakan suatu aktivitas untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa berkaitan langsung dengan aktivitas guru. Menurut Miarso dalam Rusman, Sesuai UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 1 ayat 20 menjelaskan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Oleh karena itu, ada lima jenis interaksi yang dapat berlangsung dalam proses belajar dan pembelajaran, yaitu: 1) interaksi antara pendidik dan peserta didik; 2) interaksi antara sesama peserta didik atau antar sejawat; 3) interaksi peserta didik dengan narasumber; 4) interaksi peserta didik bersama pendidik dengan sumber belajar yang sengaja dibenarkan; dan 5) interaksi peserta didik bersama pendidik dengan lingkungan sosial dan alam. Dari uraian di atas, dapat diambil simpulan bahwa pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar untuk membelajarkan peserta didik dalam suatu lingkungan belajar.
Istilah penilaian dalam BahasaIndonesia dapat bersinonim denganevaluasi (evaluation) dan kini jugapopular istilah asesmen (assessment).Ada banyak definisi penilaian, walaupunberbeda rumusan, pada umumnyamenunjuk pada pengertian yang hampersama. Lynch (1996) mengemukakanbahwa penilaian adalah usaha yangsistematis untuk mengumpulkaninformasi untuk membuat pertimbangandan keputusan. Douglas (2004) yangsengaja memilih istilah Tesmengartikannya sebagai carapengukuran keterampilan, pengetahuan,atau penampilan seseorang dalamkonteks yang sengaja ditentukan.Definisi lain, penilaian diartikan sebagaiproses pengumpulan dan pengolahaninformasi untuk mengukur pencapaianhasil belajar peserta didik (PP No.19 Th2005).
Penilaian hasil belajar adalah kegiatan penyetandaran hasil belajar siswa yang dilakukan melalui dua kegiatan pokok, yaitu kegiatan esesmen dan evaluasi. Esesmen dimaknai sebagai kegiatan pengumpulan hasil belajar, sedangkan evaluasi dimaknai sebagai kegiatan penyetandaran atau pengolahan hasil belajar. Hasil belajar adalah kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam satu kompetensi dasar (Kunandar, 2007). Hasil belajar dalam silabus berfungsi sebagai petunjuk tentang perubahan perilaku yang akan dicapai oleh siswa sehubungan dengan kegiatan belajar yang dilakukan, sesuai dengan kompetensi dasar dan materi standar yang dikaji.
Hasil belajar siswa yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran di sekolah selalu sejalan dengan tujuan yang tercantum pada indikator yang sudah direncanakan oleh guru. Dalam menyusun atau menetapkan indikator, guru mengacu pada taksonomi tujuan pendidikan yang disusun oleh Bloom, yaitu berupa pengetahuan (ranah kognitif), sikap (ranah afektif), dan keterampilan (ranah psikomotor) yang ketiganya dapat dirinci lagi menjadi bermacam-macam kemampuan yang perlu dikembangkan dalam setiap proses pembelajaran (Arikunto, 1999)
Menurut Suprijono (2009), hasilbelajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap,apresiasi dan keterampilan. SelanjutnyaSupratiknya (2012) mengemukakanbahwa hasil belajar yang menjadi objekpenilaian kelas berupa kemampuan-kemampuan baru yang diperoleh siswasetelah mereka mengikuti proses belajarmengajar tentang mata pelajarantertentu. Dalam sistem Pendidikannasional rumusan tujuan Pendidikanmengacu pada klasifikasi hasil belajardari Bloom yang secara garis besar yaituaspek kognitif, aspek afektif dan aspekpsikomotor.
Menurut Hamalik (dalam Ekawarna, 2011) mengemukakan bahwa “hasil belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Hasil belajar itu biasanya dinyatakan dalam bentuk angka, huruf atau kata- kata baik, sedang, kurang dan sebagainya”. “Hasil belajar nyata dari apa yang dapat dilakukannya yang tidak dapat dilakukannya sebelumnya. Maka terjadi perubahan kelakuan yang dapat kita amati dan dapat dibuktikannya dalam perbuatan” (Nasution, 2000)
Berdasarkan beberapa pandangan dapat disimpulkan hasil belajar adalah hasil yang dicapai anak dalam usahanya untuk menguasai mata pelajaran dengan sengaja pada waktu tertentu.
Trianto, menjelaskan beberapa klasifikasi yang dapat digunakan dalam mengembangkan materi pembelajaran, antara lain: 1). Guru sebagai fasilitator dan siswa belajar sendiri, yaitu guru bertindak sebagai fasilitator untuk mengontrol kemajuan siswa, memberi motivasi, petunjuk dalam memecahkan masalah, dan menyelenggarakan tes sedangakan siswa belajar sendiri dengan menggunakan bahan ajar yang di desain secara khusus, 2). Guru sebagai sumber tunggal dan siswa belajar, bentuk kegiatan menempatkan siswa sebagai sumber belajar yang disebut pengajaran konvensional. Siswa mengikuti kegiatan pembelajaran dengan cara mendengarkan ceramah dari pengajar, mencatat, mengisi formulir, dan mnegerjakan tugas yang diberikan guru, 3). Guru sebagai penyaji bahan belajar yang dipilih, guru menyajikan isi pelajaran sesuai dengan strategi pembelajaran yang disususnnya dengan menambah atau mengurangi materi yang ada di dalam bahan belajar yang ia gunakan.
Trianto menjelaskan Guru harus dapat memperkirakan berapa lama siswa dapat mempelajari materi dan guru perlu mempertimbangkan tingkat kesulitan, ruang lingkup, serta pentingnya materi tersebut dipelajari. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang membantu tercapainya kompetensi dasar.
Gerlach dan Ely dalam Hamdani berpendapat, media secara garis besar yaitu manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi agar siswa dapat memeroleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Dengan kata lain, media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional dilingkungan siswa, yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Adapun media pembelajaran adalah media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran.
Media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran yang terdiri atas buku, tape recorder, kaset, film kamera, film recorder, film, slide, foto, gambar, grafik, televisi, dan komputer. Hamdani, Media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa.
Pemanfaatan media pembelajaran merupakan upaya kreatif dan sistematis untuk menciptakan pengalaman yang dapat membelajarkan siswa. Media pembelajaran dapat membantu guru untuk mempermudah proses belajar, memperjelas materi pembelajaran dengan beragam contoh konkret melalui media, memfasilitasi interaksi dengan siswa, dan memberi kesempatan praktik siswa. Dengan demikian penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Media pembelajaran yang digunakan hendaknya media yang dapat memfasilitasi proses belajar yang sesuai dengan materi pembelajaran sehingga dapat memperkaya pengalaman siswa pada proses belajar. Dengan menggunakan media dapat menciptakan pengalaman dan suasana belajar siswa sehingga dapat terjadi proses interaksi dua arah. Tujuannya agar siswa dapat melakukan aktivitas percobaan sederhana yang dapat mempengaruhi pengalaman belajarnya.
Gagne dalam Rusman berpendapat, Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat memberikan rangsangan untuk belajar. Seperti pendapat Gagne, penggunaan media pembelajaran juga memberikan raangsangan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar dikuatkan oleh pendapat Miarso. Menurut Miarso dalam Rusman, media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar yang disengaja, bertujuan dan terkendali.
Ada kriteria-kriteria tertentu yang perlu diperhatikan dalam memilih suatu media pembelajaran, kriteria tersebut adalah: 1). Ketepatan media dengan tujuan pembelajaran, media pembelajaran dipilih yang sesuai dengan tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Tujuan-tujuan instruksional yang berisikan unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis lebih memungkinkan digunakannya media pembelajaran. 2). Dukungan terhadap isi materi pembelajaran, media yang dipilih harus dapat mendukung penyampaian materi pembelajaran yang berupa fakta, prinsip, konsep, dan generalisasi agar lebih mudah dipahami siswa. Menurut Arsyad agar dapat membantu proses pembelajaran secara efektif, media harus selaras dan sesuai dengan kebutuhan tugas pembelajaran dan kemampuan mental siswa. 3). Kemudahan memperoleh media, media yang digunakan mudah diperoleh ataupun setidaknya dapat dibuat sendiri oleh guru, 4). Perilaku pembelajaran guru dalam menggunakannya, apapun jenis media yang dipilih guru harus dapat menggunakannya dalam proses pembelajaran, 5). Tersedia waktu untuk menggunakannya, dalam proses pembelajaran guru menyediakan waktu untuk menggunakan media agar media tersebut dapat memberikan manfaat bagi siswa untuk lebih memahami materi pelajaran. 6). Sesuai dengan taraf berpikir siswa, media yang digunakan sesuai dengan taraf berpikir siswa, sehigga siswa dapat dengan mudah memahami materi pelajaran yang ada didalamnya.
Kondisi yang diharapkan media pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran dapat ditunjukkan dengan: a) Dengan menggunakan media film pembelajaran proses pembelajaran menjadi sesuai dengan tujuan instruksional yang telah ditetapkan; b) Dengan menggunakan media film pembelajaran dapat melibatkan kegiatan fisik bagi siswa; c) Berisi konsep-konsep yang perlu dipahami siswa; d) Terdapat tugas-tugas yang harus dilakukan siswa, 2). Media pembelajaran mendukung isi materi pembelajaran. Kondisi yang diharapkan media pembelajaran mendukung isi materi pembelajaran dapat ditunjukkan dengan: a) Media film pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan tugas pembelajaran siswa; b) Media film pembelajaranmenampilkan hal-hal yang konkrit; c) Materi dalam media film pembelajaran disusun dari umum ke khusus; d) Materi dalam media film pembelajaran disusun dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang kompleks, 3). Media pembelajaran dapat menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. Kondisi yang diharapkan media pembelajaran dapat menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dapat ditunjukkan dengan: a) Siswa melakukan kegiatan belajar mengamati berbagai materi, contoh, dan gambar dalam media pembelajaran; b) Siswa melakukan diskusi untuk memecahkan permasalahan/ tugas; c) Siswa mengerjakan tugas dalam media film pembelajaran; d) Dapat memfasilitasi proses interaksi antara siswa dan guru.
Film pembelajaran adalah media pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengajarkan materi dalam ranah perilaku atau psikomotor. Dalam menggunakan film pembelajaran poin pentingnya adalah siswa harus dapat mengingat detail dari scene ke scene. Umumnya, siswa menganggap bahwa belajar melalui film lebih mudah dibandingkan melalui teks sehingga mereka terdorong lebih aktif dalam berinteraksi dengan materi. Film memaparkan keadaan real dari suatu proses, fenomena atau kejadian sehingga dapat memperkaya dalam pemaparan.
Langkah-langkah pembelajaran menggunakan media film pembelajaran menurut Rusman adalah sebagai berikut: 1). Penyajian informasi, yaitu berupa materi pelajaran yang akan dipelajari siswa, 2). Pertanyaan dan respon, yatu berupa soal-soal latihan yang harus dikerjakan siswa, 3). Penilaian respon, yaitu komputer akan memberikan respon terhadap kinerja dan jawaban siswa, 4). Pemberian balikan respon, yaitu setelah selesai program akan memberikan balikan. Apakah telah sukses atau harus mengulang, 4). Pengulangan, 5). Segmen pengaturan pelajaran (refleksi).
Film pembelajaran merupakan media yang memberikan contoh langsung kepada siswa secara visual. Sehingga siswa akan dengan mudah memahami sebuah materi. Dengan film pembelajaran, siswa dapat secara interaktif mengikuti kegiatan praktik sesuai yang di ajarkan dalam film.
Kelebihan film pembelajaran menurut Daryanto: 1). Menerangkan bahwa film merupakan media yang efektif karena ukuran tampilan film yang sangat fleksibel dan dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Sehingga baik pembelajaran individu hingga pembelajaran massal dapat dengan mudah disesuaikan, 2). Film juga merupakan bahan ajar non cetak yang menyajikan banyak informasi ke hadapan siswa secara langsung, 3). Kemampuan film dalam memvisualisasikan materi lebih efektif untuk membantu guru menjelaskan materi yang bersifat dinamis, 4). Siswa akan dengan mudah mengingat materi yang disajikan, 5). Dapat memotivasi siswa untuk melakukan pengamatan secara langsung terhadap proses yang di visualisasikan film.
KKM merupakan kriteria ketuntasan belajar minimal yang ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mempertimbangkan karakteristik Kompetensi Dasar yang akan dicapai, daya dukung, dan karakteristik peserta didik. Penilaian Kompetensi Belajar peserta didik mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara berimbang sehingga dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif setiap peserta didik terhadap standar yang telah ditetapkan. Cakupan penilaian merujuk pada ruang lingkup materi, kompetensi muatan pelajaran/kompetensi muatan/kompetensi program, dan proses. Teknik dan Instrumen Penilaian Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai berikut. Penilaian kompetensi sikap, Pendidik melakukan penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat”(peer evaluation) oleh peserta didik dan jurnal. Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antar peserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik, sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik yaitu: 1). Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati, 2). Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri, 3). Penilaian antar peserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik, 4). Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Penilaian Kompetensi Pengetahuan, Pendidik menilai kompetensi pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan 1). Instrumen tes tulis berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran, 2). Instrumen tes lisan berupa daftar pertanyaan, 3). Instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas. Penilaian Kompetensi Keterampilan, Pendidik menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik, projek, dan penilaian portofolio.Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubric.
Kata khalifah sendiri berasal dari akar kata khalafa (kh-l-f), yang berarti menggantikan, mengikuti, atau yang datang kemudian (A.W. Munawwir, 1984: 380). Bentuk jamak dari kata tersebut ada dua macam, yaitu khulafa dan khalaif. Menurut Quraish Shihab, masing-masing makna dari kata itu mengiringi atau sesuai dengan konteksnya. Seperti misalnya ketika Allah menguraikan pengangkatan Nabi Adam sebagai khalifah, digunakan kata tunggal (Q.S. Al-Baqarah (2): 30), sedangkan ketika berbicara tentang pengangkatan Nabi Daud digunakan bentuk jamak (Q.S. Shad (38): 26) (M. Quraish Shihab, 1996: 422-423).
Dalam kurun berikutnya, ketika Nabi Muhammad saw wafat pada tahun 632 M, otoritas yang bersifat temporal dalam bentuk kekuasaan politik ini terus berlanjut. Sejarah Islam pun kemudian bergulir mengikuti perjalanan arus sang waktu. Tercatat dalam perjalanan sejarahnya peralihan kekuasaan politik dari satu penguasa ke penguasa yang lain. Berdasarkan kriteria kequraisyan (al-aimmatu min quraisyin), sebutan atau gelar yang dipakai oleh kepala negara di dunia Islam pada periode klasik setidaknya ada dua, yaitu khalifah dan amir atau sultan. Khilafah Islamiyah yang dipimpin oleh para khalifah adalah pemerintahan pada masa Khulafa al-Rasyidin (632-661), Umayyah di Damaskus (661-750), Umayyah di Spanyol (750-1031), Abbasiyyah di Baghdad (750-1258), dan Fatimiyyah di Mesir (609-1171) (C.E. Bosworth, 1980). Selain yang telah disebutkan, para penguasa Muslim biasnya mendapat gelar atau sebutan amir atau sultan.
Deskripsi Siklus I
Perencanaan, Perencanaan setelah tindakan dilakukan kegiatan sebagai berikut : 1). Guru bersama teman wakil kepala madrasah bidang kurikulum mengadakan diskusi menyusun peta, merumuskan tujuan pembelajaran, dan instrumen – instrumen lainnya, 2). Merumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada materi selalu berhemat energy, 3). Menyusun rencana pembelajaran materi pokok selalu berhemat energy, 4). Mempersiapkan instrumen pengamatan (observasi) aspek-aspek proses pembelajaran yang dilakukan siswa dalam kegiatan pembelajaran materi pokok selalu berhemat energy, 5). Mempersiapkan alat peraga/media yang akan dipergunakan dalam proses pembelajaran berkaitan dengan materi pokok selalu berhemat energi dalam bentuk media film pembelajaran, 6). Mengadakan tes prasiklus yang menjadi acuan penilaian sebelum menggunakan media film pembelajaran.
Pelaksanaan, Siklus 1 dilaksanakan pada hari Senin, 30 Mei 2021 pukul 08.00–09.40 pada siswa kelas VII B SMP Astra Makmur Jaya Tahun Pelajaran 2021/2022 yang berjumlah 32 siswa terdiri dari 114 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan. Selanjutnya dilaksanakan langkah–langkah sebagai berikut : 1). Guru melakukan langkah pembelajaran sesuai dengan skenario pembelajaran, 2). (rencana pembelajaran terlampir).Siswa mengikuti kegiatan pembelajaran dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan skenario kegiatan belajar mengajar, 3). Pengamat melakukan pengamatan sesuai dengan instrumen pengamatan tentang aspek - aspek proses pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran yang berhubungan dengan materi pokok. Sasaran observasi perbaikan pembelajaran adalah aspek-aspek proses pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran, yaitu aspek, afektif dan psikomotor yang berhubungan dengan materi pokok selalu berhemat energi. Data hasil penilaian baik kognitif ( tertulis ) maupun afektif dan psikomotor ( pengamatan ) untuk siswa ,dan indikator aspek-aspek proses pembelajaran.
Sasaran observasi perbaikan pembelajaran adalah aspek-aspek proses pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran, yaitu aspek, afektif dan psikomotor yang berhubungan dengan materi Khulafa’u Al-Rosyidin.
Data hasil penilaian baik kognitif ( tertulis ) maupun afektif dan psikomotor ( pengamatan ) untuk siswa ,dan indikator aspek-aspek proses pembelajaran yang dilakukan guru dalam kegiatan sesuai dengan instrumen pengamatan yaitu aspek-aspek proses pembelajaran yang dilakukan guru.
Adapun hasil belajar siswa pada siklus I yaitu:
No |
Uraian Pencapaian Hasil |
Jumlah / Nilai |
|
1 |
Siswa yang mendapat nilai di bawah 75 |
6 Orang |
|
2 |
Siswa yang mendapat nilai di atas 75 |
26 Orang |
|
3 |
Rerata |
78 |
|
4 |
Ketuntasan Klasikal |
62,5% |
Refleksi, dari rata-rata kelas hasil evaluasi ada kenaikan nilai rata-rata hasil belajar siswa sebelum penggunaan media film pembelajaran.Namun hasil tersebut masih kurang dari batas minimal ketuntasan. Berarti siswa belum dapat menguasai konsep materi selalu Khulafa’u Al-Rasyidin, mungkin disebabkan pembelajaran melalui film pembelajaran dengan kondisi siswa yang masuk sekolah selama masa pandemi covid 19.
Deskripsi Siklus II
Perencanaan tindakan siklus II ini merupakan kegiatan tindak lanjut dari pelaksanaan siklus I. Pada siklus II ini, diharapkan dapat meningkatkan dan menyempurnakan kekurangan yang ada pada siklus I. Seperti perencanaan pada siklus I, kegiatan pada perencanaan siklus II juga dimulai dengan menyusun perangkat pembelajaran atau RPP. Susunan RPP pada siklus I dan siklus II tidak jauh beda, tetapi ditambahkan sedikit tahapan untuk memaksimalkan proses pembelajaran siklus II dan juga penyesuaian dengan hasil refleksi pada tahap siklus I.
Pelaksanaan Penulisan pada siklus II ini pada hari Kamis tanggal 6 Juni 2021 pukul 08.00-10.00 WIB.Subyek Penulisan ini adalah siswa kelas VII B SMP Astra Makmur Jaya yang berjumlah 32 siswa. Tidak beda dengan siklus I, pada tindakan siklus II ini juga melaksanakan 3 (Tiga) kegiatan yakni kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Rincian dari ketiga kegiatan tersebut terdapat dalam RPP yang menerapkan film pembelajaran.
Observasi dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran, tahap ini dilakukan untuk data hasil belajar siswa. Kegiatan observasi dilakukan pada siswa setelah proses pembelajaran.
Tabel Nilai Pencapaian Siklus II
No |
Uraian Pencapaian Hasil |
Jumlah / Nilai |
|
1 |
Siswa yang mendapat nilai di bawah 75 |
1 Orang |
|
2 |
Siswa yang mendapat nilai di atas 75 |
31 Orang |
|
3 |
Rerata |
89 |
|
4 |
Keruntasan Klasikal |
96,9% |
Berdasarkan hasil di atas hasil belajar siswa pada siklus II mengalami meningkatan dari rerata nilai 78 meningkat menjadi 89. Hal ini membuktikan penggunaan media film pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Bentuk dari media yang dihasilkan dalam Penulisan ini adalah berupa film pembelajaran dalam bentuk film pendek tentang 4 Khulafa’u Al-Rosyidin pada masa setelah wafatnya Rasulullah SAW. Film pembelajaran adalah suatu media yang dirancang secara sistematis dengan berpedoman kepada kurikulum yang berlaku dalam pengembangan mengaplikasikan prinsip-prinsip pembelajaran sehingga program tersebut memungkinkan peserta didik dapat menerima materi pelajaran secara lebih mudah dan menarik.
Berdasarkan hasil observasi refleksi pada siklus I dapat diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media film pembelajaran pada kompetensi dasar komponennya di kelas VII B SMP Astra Makmur Jaya belum berlangsung secara optimal, perhatian siswa belum sepenuhnya terfokus pada isi film karena masih banyak siswa yang sekedar menonton tanpa memahami. Keadaan tersebut menjadi penyebab nilai hasil belajar siswa banyak yang belum memenuhi standar keberhasilan.
KESIMPULAN
Penelitian Tindakan kelas yang dilaksanakan dengan 2 siklus pada kelas VII B SMP Astra Makmur Jaya, dengan jumlah peserta didik 32 peserta didik, dengan ketuntasan nilai rata-rata peserta didik 89, dengan persentase ketuntasan 96,4% dengan rincian 31 Peserta didik memperoleh nilai diatas 80, dan 1 orang peserta didik dengan nilai 74. Yang berarti media yang dibuat berhasil meningkatkan ketuntasan nilai peserta didik pada materi Khulafa’u Al-rosyidin (Sejarah Kebudayan Islam).
DAFTAR PUSTAKA
Daryanto. 2010. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava media.
Aqib, Zaenal. 2011. Penulisan Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya.
Lynch, B. K. (1996). Language program evaluation: Theory and practice. Cambridge University Press.
Douglas, B. H. (2004). Language Assessment Principle and Classroom Practices. NY: Pearson Education
Kunandar. (2007). Guru Profesional. Jakarta: PT Raja Grafinda
Arikunto, S. (1999). Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Bumi Aksara
Suprijono, A. (2009). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Supratiknya, A. (2012). Penilaian hasil belajar dengan teknik nontes. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Ekawarna, D. R. (2011). Penelitian Tindakan Kelas. Jambi: Gaung Persada
Nasution, S. (2000). Berbagai pendekatan dalam proses belajar dan mengajar. PT. Bina Aksara.
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.
Shihab, M. Quraish. Wawasan Al-Quran. Bandung: Mizan, 1996.
Bosworth, C.E. Dinasti-Dinasti Islam. Terj. Ilyas Hasan. Bandung: Mizan , 1980.
Tulisan Lainnya
IRFAN SI ANAK SUKU
Irfan. Ya, itulah nama yang amat singkat dari siswaku. Irfan adalah seorang anak 12 tahun asli dari Suku Binggi di Sulawesi Barat. Sekarang ia masih duduk di kelas VII. Dari awal ia men
